(in Bahasa Indonesia)Pemegang Saham ExxonMobil Pertanyakan Pemberian
Dana untuk Militer Indonesia
Reporter: Dandhy DL - Jakarta,
2005-05-27
Jakarta, Acehkita. Pemegang saham ExxonMobil mendesak manajemen
perusahaan minyak dan gas itu untuk meninjau kembali hubungan dengan
militer Indonesia menyusul terjadinya kasus kejahatan kemanusiaan
di Aceh. Para pemegang saham yang tergabung dalam dana pensiun Kota
New York (New York City Pension System) itu juga mempertanyakan
risiko bagi investasi mereka bila pihak ExxonMobil memberikan sejumlah
dana kepada militer Indonesia.
Demikian isi resolusi yang didukung 7,6 persen suara dalam rapat
tahunan pemegang saham ExxonMobil di kota Dallas, negara bagian
Texas, Rabu, 25 Mei 2005. Jumlah saham ExxonMobil sendiri mencapai
498 juta lembar dengan nilai lebih dari 27 miliar dollar dan terdaftar
sebagai perusahaan publik di bursa saham New York dengan kode perdagangan
XOM.
Kendati hanya didukung 7,6 persen, namun angka ini lebih tinggi
dibanding isu pengadopsian prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam
peraturan perusahaan ExxonMobil yang dikampanyekan Amnesty International,
yang hanya memperoleh 6 persen suara. Sementara isu perubahan iklim
global yang divoting tahun lalu dan dikampanyekan oleh Christian
Brother didukung 8,8 persen suara. Angka 7,6 persen itu bahkan lebih
tinggi dari agenda pemberian kompensasi kepada jajaran dewan komisaris
(board) perusahaan yang hanya didukung 5,4 persen pemegang saham.
Resolusi itu juga meminta manajemen ExxonMobil untuk melaporkan
kepada pemegang saham mengenai risiko potensial bagi investor dan
beban yang diakibatkan pembayaran korporat kepada TNI.
Selain itu, salah seorang wakil pemegang saham, Elena Acosta dari
Antioch New England Graduate School Faculty Senate, juga mengingatkan
investor untuk memberikan kompensasi kepada warga Aceh yang gasnya
diambil ExxonMobil dari lapangan Arun, Lhokseumawe. Pemberian kompensasi
itu meliputi dampak lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia
yang dilakukan militer Indonesia dengan dukungan dana dari ExxonMobil.
“Kami, sebagai pemegang saham yang peduli, membutuhkan keamanan
investasi kami dengan menjamin bahwa ExxonMobil tidak terlibat dalam
kegiatan kejahatan kemanusiaan,” kata Elena melalui keterangan pers
yang dikeluarkan International Labor Right Fund.
Sejumlah laporan hak asasi manusia menyebutkan, di masa pemberlakuan
Daerah Operasi Militer (DOM), salah satu fasilitas ExxonMobil bernama
Rancung, Lhokseumawe, digunakan sebagai tempat penangkapan dan penyiksaan.
Kendati demikian, tidak diperoleh keterangan berapa besarnya dana
yang telah dikeluarkan ExxonMobil untuk membiayai operasional TNI
di Aceh. Ini berbeda dengan kasus PT Freeport Indonesia (PT FI)
yang secara resmi mengumumkan telah membayar ‘biaya keamanan’ kepada
sedikitnya 2.300 personel TNI sebesar 5,6 juta dollar AS pada tahun
2002, dan 4,7 juta dollar AS di tahun sebelumnya.
Laporan ini mencuat ke permukaan setelah perusahaan induk mereka,
Freeport McMoran Copper & Gold, Inc. membuat laporan kepada
US Securities and Exchange Commission (badan pengawas pasar modal)
tentang besarnya dana yang diberikan kepada TNI. Dalam laporan yang
dibuat pada Maret 2003 itu, juga disebutkan biaya sebesar 400 ribu
dollar AS untuk berbagai prasarana pertahanan selama tahun 2002,
dan 500.000 dollar AS di tahun sebelumnya.
Seperti halnya ExxonMobil, dalam rapat tahunan pemegang saham
yang digelar 5 Mei lalu, manajemen Freeport McMoran juga menerima
resolusi dari para pemegang sahamnya, yang mempertanyakan pengeluaran
dana untuk militer Indonesia. Pemegang saham Freeport yang juga
terdiri dari pensiunan petugas pemadam kebakaran, guru, dan polisi
berhasil menggalang 7 persen dukungan.
Namun, mengutip sejumlah sumber, peneliti dari Pusat Studi Keamanan
dan Perdamaian Universitas Gajah Mada, M Najib Azca menyatakan,
ExxonMobil diperkirakan memberi setoran sebesar 500.000 dollar AS
per bulan untuk 3.000 prajurit TNI termasuk, dukungan dalam bentuk
pengadaan perlengkapan dan kendaraan lainnya.
ANALISIS
Ketika yang Bersenjata Ikut Berniaga:
Catatan dari Daerah Konflik
Namun, Public Relation ExxonMobil Indonesia, Deva Rachman, ketika
dihubungi acehkita menyatakan, masalah ‘uang keamanan’ kepada TNI
merupakan tanggung jawab pemerintah. “Dari sektor pengaman, kalau
pemberian secara langsung ke TNI rasanya enggak, ya. Tapi saya perlu
waktu lebih lama untuk konfirmasi lagi,” katanya.
Namun mengenai resolusi para pemegang saham, menurut Deva, hal
tersebut merupakan kewenangan kantor pusat ExxonMobil di Amerika.
“Semua itu menjadi kewenangan kantor pusat untuk menjawabnya,” tandasnya.
ExxonMobil sendiri kini menguasai lapangan gas Aceh dengan kapasitas
produksi 1,5 miliar kaki kubik gas per hari atau 11 persen dari
produksi ExxonMobil di seluruh dunia untuk tahun 2004. Perusahaan
tersebut juga telah membukukan keuntungan mencapai 25,33 miliar
dollar di tahun 2004, yang disebut-sebut sebagai rekor dunia.
Namun menurut International Labor Right Fund, ExxonMobil hanya
membantu sekitar 8 juta dollar untuk penanganan bencana tsunami
atau kurang dari 1/3 dari 1 persen keuntungan tahun 2004. “Itupun
termasuk 3 juta dollar AS dari 100.000 pekerja, pensiunan, dan distributor,”
tulis siaran pers tersebut.
Di sisi lain, perusahaan yang beroperasi di Aceh sejak awal 1980-an
itu tercatat sebagai penyumbang dana kampanye Presiden George Walker
Bush dan Wapres Dick Cheney, serta sejumlah politisi dari Partai
Republik selama musim kampanye 2004 lalu.
Rapat tahunan pemegang saham ExxonMobil tahun ini digelar bersamaan
dengan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Amerika Serikat.
ExxonMobil sendiri dijadwalkan akan menjamu rombongan pejabat Indonesia
di Mandarin Oriental Hotel, Washington D.C. [dan]
|